Produksi

Sistem Budidaya Magot

Sistem Budidaya Maggot. Secara umum, budidaya magot dapat dilakukan dengan dua metode
yaitu metode kultur tertutup (closed system) dan metode kultur terbuka (open system).
Kedua sistem ini dikembangkan untuk mendapatkan kemurnian hewan kultur.

 

Phone

081221052808

Office

Slipi JakBar 11410

Hours

Mon-Sat
9am – 6pm

Sistem Tertutup
(Closed System)

Produksi magot dengan sistem tertutup adalah sistem budidaya magot dimana produksi telur serangga BSF diperoleh dari lingkungan atau tempat terkontrol yang biasa disebut dengan insektarium.

Produksi magot dengan sistem tertutup ditujukan untuk kegiatan industri karena jumlah serta ukuran magot yang akan diproduksi dapat ditentukan dengan jelas dan pasti.

Untuk produksi magot secara tertutup kita harus memiliki beberapa sarana dan prasarana produksi di antaranya:

  • Insektarium
  • Ruang panen dan penetasan telur 
  • Ruang kultur magot (larvarium).

Insektarium

Fasilitas ini berupa sebuah ruangan atau tempat pemeliharaan serangga BSF dengan kondisi lingkungan yang terkontrol.

Suhu optimum

Selama masa pemeliharaan, Suhu optimum untuk kehidupan serangga BSF yakni di kisaran 27-37° C.

 

Suhu pada insektarium sangat dipengaruhi oleh perubahan cuaca di lingkungan luar.

Serangga dalam insektarium akan aktif pada cuaca panas dan banyak paparan cahaya karena serangga BSF termasuk serangga yang menyukai tempat terang daripada tempat yang gelap atau sedikit cahaya.

Aktivitas BSF

Saat pagi hari menjelang siang, antara pukul 10.00-12.00

Sementara itu, saat cuaca mendung atau hujan, serangga lebih banyak berdiam diri.

cara Pelihara BSF

Selama masa pemeliharaan, BSF tidak perlu diberi pakan karena serangga dewasa telah mempunyai cadangan energi seperti lemak dan protein yang disimpan sejak fase magot.

Energi tersebut digunakan untuk berkembang biak dan hidup.

Serangga BSF berkembang biak pada siang hari, perkawinan serangga dilakukan di atas tanaman shelter, seperti tanaman wedelia sp. dari famili Asteraceae.

insektarium serangga BSF

Termasuk dalam kelas atau sejenis serangga

Pemilihan bahan sebaiknya yang kuat ini bertujuan untuk menghindari terpaan angin yang cukup kencang.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembangunan insektarium serangga  lihat video tutorial

  • Konstruksinya cukup kuat untuk menahan angin.
  • Dinding bagian bawah terbuat dari semen
  • Adapun ukuran mesh yang dipilih yakni 2-3 mm.
  • Bagian atap insektarium menggunakan bahan polikarbonat dan sebagian ditutup dengan menggunakan kawat baja untuk sirkulasi udara.
  • Bangunan dapat melindungi serangga dari predator alaminya, seperti burung, bunglon, tikus, dan lain-lain.
  • Memiliki intensitas cahaya yang cukup untuk membantu serangga beraktivitas dengan optimal.
  • Suhu di ruangan insektarium berkisar antara 29-35° C, dengan tingkat kelembapan udara berkisar antara 30-60%.
    Insektarium sistem tertutup.
  • Konstruksi terbuat dari baja ringan dan dinding bagian bawah menggunakan tembok
  • Terdapat shelter sebagai tempat serangga bertengger dan kawin.
  • Tanaman-tanaman merambat seperti dari famili Asteraceae (misalnya Wedelia sp.) atau tanaman artifisial (tanaman plastik) juga dapat dimanfaatkan sebagai shelter.
  • Memiliki sumber air yang dapat disemprotkan ke arah shelter sehingga serangga dapat minum.
  • Perlu diingat bahwa selama fase imago (dewasa), serangga BSF tidak memerlukan makan, hanya air untuk minum.
  • Semua kondisi tersebut diciptakan agar serangga BSF nyaman dalam insektarium.

Apabila serangga telah nyaman, diharapkan dapat menghasilkan telur dengan jumlah lebih banyak.

Sebuah insektarium serangga BSF, baik yang sederhana maupun yang modern, perlu dilengkapi dengan wadah untuk pupa (puparium) dan wadah untuk koleksi telur.

 

 

Spesies - Hermetia illucens

Memiliki dua antena yang cukup panjang, terdapat lempengan yang menyerupai cermin pada abdomen no. 2 bagian belakang, memiliki panjang tubuh 12-17 mm.

Anatomi Serangga Black Soldier Fly (BSF)

Klasifikasi: Kingdom Animalia

Filum - Arthropoda

Merupakan invertebrata yang dilengkapi dengan apendiks atau toraks pelindung.

Subfilum - Heksapoda

Memiliki enam kaki berwarna putih

Kelas - Insecta

Termasuk dalam kelas atau sejenis serangga

Subkelas - Pterygota

Memiliki dua pasang sayap pada toraks kedua dan ketiga, serta mengalami metamorfosis dalam proses perkembangannya.

Infrakelas - Neoptera

Sayap berkembang atau mekar ke arah belakang. Pada bagian abdomen terlihat warna yang lebih terang. Bening tembus pandang.

Order - Diptera

Memiliki dua pasang sayap. Sayap pertama merupakan sayap fungsional yang digunakan untuk terbang dengan struktur membran mesotoraks.

Sepasang sayap lainnya berfungsi sebagai penyeimbang yang dilengkapi dengan struktur membran metatoraks.

Suborder - Brachycera

Pengurangan jumlah flagela, terutama pada segmen ke delapan. Mandibula terbentuk dari dua bagian.

Famili - Stratiomyidae

Memiliki sayap yang spesifik dengan formasi discall cell.

Subfamili - Hermetiinae

Antena flagellomere ke delapan lebih panjang dan tebal.

Tidak terdapat spina (tulang) pada skutelum, dan terdapat piringan pada bagian belakang toraks kedua.

Genus - Hermetia

Semua antena flagellomere (delapan buah) berbentuk rata secara lateral.

Spesies - Hermetia illucens

Memiliki dua antena yang cukup panjang, terdapat lempengan yang menyerupai cermin pada abdomen no. 2 bagian belakang, memiliki panjang tubuh 12-17 mm.

Sumber

Martinez (1986), Maddison dan Schulz (2007)

Larva = Belatung = Maggot

Apa Itu Magot?

Sebenarnya sama saja antara larva, magot, maggot, belatung, beranga dan sebagainya.

Yurie BSF menggunakan istilah maggot dengan pertimbangan “menekan” kesan menjijikan dibandingkan belatung.

Dan ternyata berhasil. Masyarakat lebih bisa diajak “damai” bicara magot dibandingkan dengan bicara tentang belatung.

Dilalahnya…ini hanya berlaku di Indonesia…Sedangkan di negara lain, mereka sudah dengan nama baru “GRUBB” atau GRUBBY. Ya mereka juga dengan pertimbangan yang sama untuk menekan dan menghilangkan kesan menjijikan .

Lah terus gimana…nyantai aja…,  saat ini fokus dapatkan manfaatnya dulu.

 

Magot vs Belatung

Sama sama anak lalat, sama sama membawa penyakit.

Yang membedakan adalah induk nya.

Induk maggot BSF tidak membawa wabah penyakit.

Induk belatung dari lalat hijau atau lalat rumah membawa wabah penyakit.

BSF tidak membawa penyakit karena tidak makan.

Lalat hijau membawa wabah penyakit karena makan di sembarang tempat , utamanya di tempat kotor dan bangkai. dan sebelum makan mereka memuntahkan cairan berwarna kuning yang merupakan enzim agar makan tersebut mudah di cerna oleh lalat.

Tapi bagi manusia cairan inilah sumber wabah penyakit seperti kolera dan sebagainya

Jadi jelas ya…maggot yang manapun membawa penyakit!!!

Solusi:
Oleh karenanya saat bekerja atau berineraksi selalu gunakan sarung tangan.

Fungsi Belatung VS Maggot

Sekedar memperjelas jawaban di atas.

Peran kedua nya sama, yaitu pemakan bahan organik yang mulai membusuk.

Kedua nya sama-sama agen perombak (compost material) organik.

dan kedua nya merupakan pembawa vektor penyakit!

Bagaimana bisa di dibilang bukan vektor penyakit? Meraka hidup di sampah atau limbah atau bangkai yang penuh bakteri dan kotor.

Mungkin yang dimaksud tidak membawa vektor penyakit adalah induk / “mama” nya maggot alias BSF atau black soldier fly.

 

Maggot Bikin Tanah Subur?

Tidak!!! salah besar jika maggot dikatakan dapat membantu kesuburan tanah.

Yang dapat membantu kesuburan tanah adalah KASGOT (bekas maggot) atau sisa dari substrate yang ditinggalkan oleh maggot.

Jadi bukan maggot nya tapi bekas maggot yang bisa membantu kesuburan tanah.

Dan pastinya kualitas kasgot juga berbeda antara satu peternak dengan lainnya.

Pembudidaya maggot tradisional sisa kasgotnya, bau, besar besar dan banyak.

Kami menyebutnya bukan kasgot ataupun pupuk padat organik, tetapi “sampah sisa maggot”. Yang kandungan haranya masih rendah.

Berbeda dengan kasgot kualitas super, bentuknya sangat kecil seukuran dengan lubang dubur maggot.

Kualitas maggot yang seperti itulah menandakan kualitas peternaknya.

Tips:
Jangan gunakan kasgot kualitas rendah untuk tanaman. Bisa berakibat tanaman mati. Baca ciri mutu kompos yang baik

populasi Maggot?

Pertama bedakan dulu antara populasi maggot dengan populasi BSF.

Populasi maggot adalah sekumpulan maggot yang hidup dalam satu area, di alam ataupun dalam satu wadah/ember/tong dan sebagainya.

Sedangkan populasi BSF adalah sekumpulan BSF yang hidup terbang atau hinggap di alam bebas atau hidup dalam kandang.

Jadi kalau ada yang mengajarkan populasi bsf jarang ditemukan secara alami karena diserang  (tingginya predasi) utamanya oleh semut. Tentu ini salah besar.

Populasi BSF jarang ditemukan karena habitat tempat mereka tinggal seperti hutan atau pepohonan yang ada bunganya (mengandung madu) sudah berubah fungsi menjadi perumahan atau perkantoran.

Sehingga mereka migrasi ke area yang masih banyak pepohonan ataupun sumber makanan bagi anak-anak mereka. 

Atau dengan kata lain,  BSF merupakan anggota dari familli stratiomyidae yang hidup di sesemakan atau lingkungan dengan vegetasi tinggi.

Jadi populasi BSF jarang ditemukan secara alami bukan karena semut sis!!!

morfologi Magot Vs Belatung

Larva / belatung lalat rumah (housefly) tubuhnya berbentuk bulat panjang seperti wortel dan terdapat pembuluh vena berwarna hitam di bagian tengah tubuh.

Sedangkan larva atau magot bsf permukaan tubuhnya berkerut, dengan tubuh berbentuk bulat datar atau seperti perahu.

Pada sepanjang tubuh magot BSF terdapat rambut dan pori-pori.

morfologi Pupa Magot Vs Belatung

Fase pupa housefly berbentuk oval serta memiliki cangkang yang licin.

Pupa atau kepompong magot memiliki bentuk yang hampir sama dengan pre-pupanya atau larvanya. 

Perbedaannya terletak pada bentuk pupa lebih pipih dan seperti memanjang, dengan warna hitam pudar.

fisiologi dan siklus hidup magot

Fase pupa housefly berbentuk oval serta memiliki cangkang yang licin.

Pupa atau kepompong magot memiliki bentuk yang hampir sama dengan pre-pupanya atau larvanya. 

Perbedaannya terletak pada bentuk pupa lebih pipih dan seperti memanjang, dengan warna hitam pudar.

fisiologi dan siklus hidup magot

Siklus hidup housefly lebih didominasi pada stadium dewasa, yaitu antara 45-60 hari.

Sedangkan fase larva nya  (belatung)  hanya berlangsung selama 5-7 hari.

Dengan kata lain sebagian besar siklus hidup housefly sebagai vektor penyebar penyakit.

Sebaliknya, siklus hidup BSF sebagian besar adalah pada fase larva yaitu antara 25 – 35 hari.

Sementara fase dewasa (fase BSF) hanya berlangsung 5-6 hari.

Artinya, sebagian besar siklus hidup serangga BSF digunakan sebagai agen dalam penguraian sampah atau limbah organik.

Biologi
Black Soldier Fly

Larva BSF bersifat saprofagus dan fotofobik (takut sinar terang)

Mereka hidup dalam tumpukan sampah dan limbah organik (organic metter) dan mendekomposisinya menjadi unsur mikro.

Secara anatomi, larva BSF memiliki kepala yang seolah-olah terpisah dari bagian tubuh.

Pada bagian kepala terdapat mulut yang dapat merombak bahan-bahan organik.

Tubuh magot memiliki 11 segmen, pada setiap segmen terdapat bulu-bulu atau rambut-rambut halus.

Tubuh larva BSF berwarna krem atau coklat muda dan berubah menjadi coklat tua atau hitam saat mendekati fase pre-pupa.

Ukuran larva BSF mencapai 20 mm dengan lebar badan 6 mm.

Serangga (BSF) dewasa memiliki panjang tubuh 13-20 mm, dua antena, sepasang sayap berkembang baik dan sepasang sayap kecil yang terletak pada bagian belakang (seperti umumnya diptera) yang berfungsi sebagai selter.

Serta tiga pasang kaki berwarna putih kekuningan.

Serangga jantan memiliki ukuran lebih kecil dibandingkan dengan serangga betina.

Secara anatomi perbedaan serangga jantan dan betina terletak pada abdomen / segmen perut bagian akhir, di mana serangga betina memiliki saluran telur retraktil.

Sedangkan serangga jantan menunjukkan aedeagus (organ reproduksi jantan) berbentuk sepasang kait yang dapat mengapit organ reproduksi betina saat kopulasi.

Telur BSF berbentuk bulat oval dan berwarna putih yang kemudian berangsur berubah menjadi krem, mendekati waktu penetasan, kurang lebih 3 hari berubah menjadi kuning kecokelatan.

Jika diamati dibawah mikroskop, terlihat bakal larva pada bagian ujung telur.

Karakter yang cukup jelas pada telur BSF adalah dari bentuk atau susunan telur.

Telur BSF tersusun sangat rapi karena induk betina memiliki organ retraktil (ovipositor) yang berbentuk belalai dan berguna untuk menata telur yang dikeluarkan.

BSF betina sekali bertelur antara 500 – 900 butir telur atau disebut satu cluster.

 

 

Daur Hidup

Siklus Hidup BSF

Siklus hidup BSF sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti suhu, kelembapan udara (humidity), intensitas cahaya, serta kualitas dan kuantitas makanan.

1. Fase Serangga

Fase dewasa black soldier fly merupakan fase dengan waktu cukup singkat yaitu 6-8 hari.

Fokus utamanya yakni pada aktivitas reproduksi.

Selama fase dewasa, BSF tidak membutuhkan pakan, hanya air.

Serangga dewasa BSF mengandalkan cadangan lemak tubuh yang diperoleh selama tahap larva.

Fisiologi serangga BSF yang tidak membutuhkan makanan selama tahap dewasa menjadi bukti bahwa serangga ini tidak berperan sebagai vektor atau penyebar penyakit.

Serangga BSF memiliki toleransi yang cukup luas terhadap suhu lingkungan, yaitu 15-47° C.

Kondisi lingkungan yang optimal untuk bereproduksi berkisar antara 31-32° C.

Serangga BSF jantan memiliki ukuran lebih kecil daripada betina dan menetas lebih awal, yakni 1-2 hari sebelum serangga betina.

Rentang waktu hidup serangga betina lebih singkat dibandingkan dengan serangga jantan, yaitu 5-7 hari untuk serangga betina dan 9-10 hari untuk serangga jantan.

Proses perkawinan (mating) serangga BSF 85% terjadi pada pagi hari, mulai pukul 08:30 dan memuncak pada pukul 10:00 dengan intensitas cahaya sekitar 110 lux.

Umumnya, perkawinan terjadi di paparan sinar matahari langsung.

Serangga dewasa kawin dan bertelur pada suhu 24-40°C dengan kadar kelembapan relatif 30-90%.

Kualitas dan kuantitas makanan pada fase larva sangat mempengaruhi jumlah telur yang dihasilkan oleh serangga dewasa.

Kualitas makanan yang lebih tinggi akan menghasilkan produksi telur lebih banyak, namun dapat mengurangi umur serangga.

Setelah melakukan perkawinan, serangga betina akan meletakkan telurnya pada sela-sela atau di antara tumpukan kayu untuk melindungi telur dari serangan predator.

Beberapa jam setelah itu, serangga BSF jantan akan mati.

Serangga dewasa memiliki predator alami, yaitu laba-laba, tokek, cicak, walet, semut kodok, burung, reptil dan sebagainya

Semut umumnya menyerang serangga yang baru menetas atau dikenal dengan istilah serangga muda.

Sayap serangga muda umumnya masih basah dan belum memiliki kemampuan untuk terbang sehingga mudah diserang oleh semut.

Adapun serangga yang lebih tua umumnya dimangsa oleh burung dan reptil.

2. Fase Telur

Tahap Telur Induk dewasa BSF dapat bertelur sekitar 500 -900 butir yang diletakkan pada substrat kering dan disembunyikan di antara celah atau tumpukan lempengan untuk menjaga kelembapan telur sebelum menetas.

Sekaligus menghindari ancaman predator, seperti semut.

Induk akan meletakkan telurnya di dekat sumber makanan, hal ini berbeda sekali dengan housefly yang selalu meletakkan telurnya di dalam sumber makanan.

Perilaku meletakkan telur secara tidak langsung di dalam sumber makanan ini mengindikasikan bahwa serangga ini bersifat higienis karena tidak meletakkan telur pada makanan manusia.
Induk BSF akan meletakkan telurnya secara bersama-sama dengan individu serangga lainnya.

Setelah meletakkan telurnya, induk betina serangga BSF akan mati.

Telur BSF berbentuk oval dan memiliki panjang sekitar 1 mm, berwarna krem kekuningan dan semakin cokelat saat mendekati waktu penetasan.

Telur BSF akan menetas pada hari ke4 dengan temperatur 27-28° C atau pada hari ke3 dengan temperatur lebih tinggi, yakni 30-32° C.

Masa inkubasi telur BSF beragam untuk setiap kondisi lingkungan yang berbeda.

Pada suhu 24° C, telur menetas dalam 102-105 jam (4,3 hari). Daya tetas telur BSF secara umum cukup tinggi, yaitu berkisar 80%.

3. Fase Larva (Magot)

Setelah tiga hari, telur BSF akan menetas (berukuran 0,66 mm) dan bergerak menuju sumber makanan.

Larva yang baru menetas akan terlihat di permukaan media membentuk kumpulan seperti awan putih.

Setelah berumur 3 hari, larva mulai bergerak ke dalam media pemeliharan.

Pada tahap ini, peternak tidak menemukan mini-larvae (magot kecil) di permukaan media.

Larva BSF (magot) akan mencari tempat gelap atau menjauhi cahaya dan masuk ke celah-celah media pemeliharaan.

Umur larva magot mencapai 4-5 minggu, tergantung pada suhu di lingkungan pemeliharaan.

Pada suhu 23°C menunjukkan bahwa magot ukuran 20 mm dapat dicapai dengan jangka waktu 32 hari.

Pada suhu 30° C, magot ukuran 20 mm akan diperoleh dalam waktu 20 hari.

Artinya suhu sangat mempengaruhi pertumbuhan larva BSF, di
samping kelembapan udara.

Selain berpengaruh pada pertumbuhan, suhu pemeliharaan juga mempengaruhi tingkat kelangsungan hidup larva BSF.

Selama fase larva, magot akan mengalami lima kali masa instar (tahap pergantian kulit) sebelum memasuki fase pre-pupa.

Proses ini sering disebut dengan istilah moulting.

Secara morfologi, sulit untuk membedakan magot pada keempat tahap pertama kecuali dinilai dari ukuran tubuh yang semakin membesar.

Namun, karena ukuran magot tersebut juga bukan menjadi faktor utama dalam menentukan umur larva.

Umumnya pembudidaya menggunakan jumlah instar sebagai barometer penentu umur.

Perbedaan magot secara morfologi baru bisa dilihat setelah memasuki
fase instar kelima.

Fase ini ditandai dengan perubahan kulit magot menjadi lebih gelap atau kecokelatan.

Dan mulai terlihat larva BSF akan bergerak meninggalkan sumber pakan dan mempersiapkan diri untuk melakukan proses metamorfosis (pupation).

Kelangsungan hidup larva BSF hingga memasuki fase pre-pupa berkisar antara 75-90% pada suhu 27-30°C.

4. Fase Pre-Pupa

Fase pre-pupa mulai larva berumur 17-19 hari.

Bagian yang paling menonjol dari
fase pre-pupa adalah warna tubuh mulai menghitam atau cokelat tua.

Larva tidak lagi mengalami proses moulting (instar).

Menjelang fase pre-pupa, larva BSF mulai berhenti makan dan melakukan proses migrasi dari sumber pakan ke tempat yang lebih kering dan terlindungi.

Ketika memasuki fase pre-pupa, bobot tubuh larva menjadi sedikit berkurang.

Pada tahap ini, larva BSF berada pada ukuran maksimum, dengan bobot tubuh mulai berkurang serta timbunan lemak yang maksimal sebagai cadangan makanan saat larva memasuki fase metamorfosis.

Bentuk tubuh pre-pupa masih menyerupai serangga muda walaupun warna tubuh terlihat mulai menghitam.

Pupa = Kepompong

5. Fase Pupa

Tahap pupa 100% dicapai pada hari ke-24 setelah menetas.

Tahapan pupa berlangsung selama kurang lebih 8 hari.

Pada tahap ini, serangga akan bermetamorfosis menjadi serangga dewasa.

Karakter yang cukup menonjol pada fase pupa adalah warna semakin gelap dan mulai memudar (tidak berkilau), tidak bergerak (kaku), salah satu ujung pupa menekuk.

Delapan hari kemudian atau pada hari ke-32, pupa mulai bermertamorfosis menjadi serangga (imago).

 

Aktivitas Enzim Pertumbuhan Maggot

Pakan Magot

Larva BSF aktif makan mendegradasi bahan organik hingga 21-24 hari, tergantung suhu lingkungannya.

Semakin rendah suhu, durasi aktivitas makan pun semakin lama. Suhu media tempat larva BSF makan akan meningkat drastis pada saat proses biokonversi.

Larva tidak akan meninggalkan media atau sumber pakan jika kandungan nutrien dan air yang tersedia mencukupi. Kandungan air media menjadi faktor kunci dalam optimalisasi proses biokonversi.

Jika kandungan air berkurang, larva cenderung menghentikan proses metabolismenya, dan selanjutnya larva mengeras lalu mati.

Sebaliknya, jika kandungan air media terlalu banyak, akan menyebabkan ketidaknyamanan bagi larva. Larva cenderung meninggalkan sumber makanan.

Aktivitas degradasi sampah organik oleh larva BSF (magot) mampu mengurangi volume sampah 40-80%.

Aktivitas magot dalam mendegradasi sampah organik dapat meningkatkan kandungan nitrogen dan fosfor.

Hal ini dapat diketahui dari aroma proses biokonversi.

Larva BSF tidak bersifat kanibal.

Larva BSF akan menuntaskan fase larvanya di dalam media pecneliharaan (sumber makanan) setelah mengalami lima kali fase instar (moulting).

Kemudian, larva BSF akan menghentikan aktivitas makan dan mulai meninggalkan media. Fase ini dikenal dengan istilah pre-pupa.

Dari fase pre-pupa, pupa, hingga fase dewasa (imago), serangga BSF tidak lagi mengonsumsi makanan.

Energi yang digunakan berasal dari hasil timbunan makanan selama fase larva.

Namun, sebagian ahli menyebutkan jika serangga BSF mendapatkan suplemen air dari nektar tumbuhan.

Penambahan air disinyalir dapat memperpanjang masa hidup serangga dewasa hingga menjadi 14 hari.

 

 

Larva BSF bersifat polifagia (ritme makan tinggi) sehingga memungkinkan larva untuk mengolah berbagai jenis sumber makanan.

Selain itu, magot juga memiliki mulut yang cukup kuat untuk memotong berbagai jenis makanan.

Magot juga memiliki enzim dalam sistem pencernaannya, seperti manusia.

Aktivitas enzim ini selanjutnya menjadi modal utama dalam dekomposisi sampah organik.

Berbagai jenis enzim yang terdapat dalam saluran cernanya yakni, amilase, protease, dan lipase, sebagai enzim yang paling aktif.

Ada pula enzim lain seperti leusin, arylamidase, a-galaktosidase, 3-galaktosidase, dan a-mannosidase.

Aktivitas enzim-enzim tersebut sangat tinggi pada fase larva BSF dan tidak demikian pada larva housefly (Musca domestica).

Hal ini berarti larva housefly tersebut tidak memiliki kemampuan mengolah sampah organik secanggih dan secepat larva BSF.

 

 

Perilaku BSF

Umumnya serangga dewasa betina akan mendekati tumpukan limbah organik, misalnya kotoran ternak, untuk meletakkan telur di sekitarnya.

Sementara serangga dewasa jantan lebih menyukai tempat dengan intensitas cahaya lebih banyak, dan memiliki wilayah teritorial.

Proses perkawinan serangga umumnya terjadi siang hari.

BSF jantan. Cenderung menyukai wilayah dengan intensitas cahaya lebih tinggi dan menempati permukaan dedaunan atau vegetasi.

Perilaku Magot

Larva BSF (magot) yang telah menetas umumnya bergerak menuju tempat yang terlindungi, masuk ke dalam media untuk menghindari diri dari paparan sinar matahari dan predator.

Jika kita tempatkan substrat di atas media, magot akan bergerak menuju bawah substrat, diikuti oleh magot lain.

Setiap magot akan bergerak menuju tempat tersebut dan menimpa individu lainnya, magot memiliki kebiasan bergerak ke atas dengan kemiringan sekitar 30°.

Magot juga cenderung menghindari media yang memiliki kandungan air tinggi. informasi mengenai biologi, fisiologi, dan tingkah laku dari serangga BSF ini telah memberikan manfaat dalam upaya domestikasi serangga BSF.

Saat ini, kultur serangga BSF telah banyak dilakukan di berbagai negara untuk berbagai tujuan. Baik untuk pengolahan limbah organik, sumber protein hewan ternak, kepentingan terapi medis, dan berbagai alasan lainnya.

Musuh Magot

Musuh alami magot terdiri dari kelompok ikan, amfibia, reptilia, aves, serta mamalia kecil.

Larva BSF yang baru keluar dari telur biasanya dimangsa oleh semut.

Sedangkan larva yang berukuran lebih besar, pupa, dan imago umumnya dimangsa oleh hewan dari kelompok:

  • Reptilia (misalnya cecak dan kadal);
  • Amfibia (katak sawah);
  • Aves (burung gereja, burung walet, burung layang-layang);
  • Mamalia (rodensia, seperti tikus);
  • Serta hewan ternak (seperti unggas, dan berbagai jenis ikan budidaya).

larva BSF juga memiliki pemangsa lain berupa parasitoid, salah satu parasitoid yang pernah ditemukan adalah parasitoid endofagus Trichopria sp. yang menyerang pupa muda.

Informasi mengenai berbagai jenis predator serangga BSF ini penting dicermati dalam melaksanakan budidaya magot.

GLOSARIUM

Biomassa

Bahan organik yang hidup atau mati dan dapat di gunakan sebagai material produksi magot.

Fotofobia

Rasa takut abnormal pada cahaya dan memilih habitat di tempat gelap.

Imunostimulan

Senyawa tertentu yang dapat meningkatkan mekanisme pertahanan tubuh baik secara spesifik maupun non spesifik.

dan terjadi induksi non spesifik baik mekanisme pertahanan seluler maupun humoral.

Misalnya:
Senyawa glukan, kitin, latoferin, levamisol, vitamin C, dan lain-lain.

Maggot

Larva serangga black soldier flyyang berperan sebagai agen biokonversi.

Mini-larvae

Salah satu fase dalam siklus hidup BSF berupa larva kecil yang baru menetas dari telur.

Parasitoid

Organisme yang menghabiskan sebagian besar hidupnya dengan bergantung pada organisme inang tunggal

dan sering mengambil makanan dalam proses tersebut.

Probiotik

Mikroorganisme hidup yang berperan memberikan efek positif pada kesehatan organisme lain atau inangnya.

Mini-larvae

Salah satu fase dalam siklus hidup BSF berupa larva kecil yang baru menetas dari telur.

Saprofagus

Organisme yang mendapatkan asupan nutrien dengan mengonsumsi hewan atau tanaman mati.

Jual Beli Magot

Pemasaran Magot

 

Kunci sukses bisnis magot salah satunya terletak pada kemudahan dalam memasarkan hasil panen magot.

Banyak caranya kok, Jual magot nya ke Yurie BSF misalnya…

Klik contoh yang sudah memasarkan magotnya ke Yurie BSF.

Belajar praktek budidaya bsf modern tanpa bau darimanapun Anda berada.

Video tutorial praktek step by step, tinggal mengikutinya saja.

Kilk untuk download aplikasi

Komunitas ini dibangun sebagai wadah saling berbagi pengalaman dalam menjalankan usaha bisnis maggot.

Klik disini untuk gabung

Belajar praktek langsung di peternakan terdekat di kota Anda.

Yurie BSF bekerja sama dengan lebih dari ratusan anak didik dan sahabat dalam menyediakan fasilitas pelatihan budidaya bsf modern tanpa bau.

Booking tempat untuk praktek lapangan disini

Cek 99 Lokasi Peternakan Maggot Indonesia

      Pin It on Pinterest

      Share This