analisa-usaha-budidaya-maggot

Analisis Usaha Budidaya Maggot Tanpa Bau

Analisis Budidaya Maggot Tanpa Bau – Dalam membuat analisis budidaya maggot tanpa bau, Faktor penting yang pertama perlu di perhatikan adalah terkait bahan baku yang digunakan. Dalam analisa budidaya BSF atau analisa ternak maggot hal ini bahan baku yang digunakan adalah sampah organik, limbah pabrik dan kotoran ternak. Beberpa faktor penting analisis budidaya bsf yaitu

1. Bahan Baku

Faktor pertama analisa budidaya BSF adalah memilih bahan baku. dan Yang kami pilih adalah sampah organik umumnya sampah organik memang tidak memiliki nilai ekonomi yang penting dan lebih sering dibuang begitu saja. Tambah lagi, saat ini keberadaannya cenderung bercampur dengan sampah anorganik.

Oleh karena itu, demi memperoleh bahan baku untuk produksi magot, perlu upaya memilah sampah organik. Pertanyaannya, apakah pembudidaya bisa melakukannya sendiri?

Pemilahan sampah organik sebaiknya dilakukan dengan sistematik, baik bersama organisasi kemasyarakatan maupun dengan pemerintah daerah.  Apabila langkah ini sulit ditempuh, pembudidaya dapat bekerja sama dengan industri-industri makanan yang memiliki sampah organik (food waste) dalam jumlah besar.

Umumnya, keberadaan sampah mereka telah terpisah dengan baik. Pembudidaya sebaiknya menghitung potensi sampah organik yang bisa dikelola secara kontinu sehingga roda usahanya bisa berjalan dengan baik.

2. Segmentasi Konsumen

Faktor kedua dalam analisa budidaya BSF adalah segmentasi konsumen. Industri produksi magot ini bergerak dalam upaya menyediakan sumber protein alternatif pakan ikan dan ternak dengan biaya yang murah karena melalui biokonversi sampah organik.

Apabila usaha produksinya diarahkan untuk mensubstitusi tepung ikan dalam industri pakan ikan atau ternak dalam jumlah kecil sekalipun akan berdampak besar dalam industri ini.

Pasalnya, harga tepung ikan dari tahun ke tahun mengalami kenaikan. Selain itu, keberadaan magot juga berdampak langsung bagi pembudidaya ikan dan ternak. Mereka mampu memproduksi protein alternatif ini secara mandiri sehingga dapat mengurangi biaya produksi.

Pihak lain yang juga akan menikmati produk dari proses biokonversi ini adalah petani sayur dan buah, akibat adanya penyediaan pupuk yang berkualitas.

analisa-usaha-budidaya-maggot

3. Tipe Usaha

Faktor ketiga analisa budidaya BSF adalah tipe usaha yang akan dilakukan. Ada dua tipe usaha produksi magot yang selama ini berkembang.

  • Tipe pertama adalah usaha mandiri, yakni pembudidaya atau peternak ikan memproduksi magot untuk memenuhi kebutuhannya sendiri
  • Tipe kedua adalah jenis usaha dengan pola kemitraan inti plasma. Pola kemitraan inti plasma adalah bentuk industri yang sangat cocok untuk produksi magot dimana yang menempati posisi inti (core) akan berperan sebagai produsen telur BSF.
  • Adapun posisi plasma memiliki peran dalam pembesaran magot (konversi sampah organik) yang dapat dilakukan di unit-unit pengolahan sampah, perumahan, dan sebagainya.
  • Magot yang dihasilkan selanjutnya ditampung kembali oleh bagian inti untuk diproses lebih lanjut menjadi tepung magot atau pelet komersial.

4. Skala Usaha

Budidaya maggot di bedakan menjadi tiga skala usaha yaitu

  • Budidaya Maggot Skala Awal
  • Budidaya Maggot Skala Kecil
  • Budidaya Maggot Skala Menengah
  • Budidaya Maggot Skala Besar

Asumsi analisa ternak maggot sebagai pakan ternak ikan dan unggas. Analisa ternak maggot ini untuk menilai manfaat yang didapat dalam kegiatan budidaya maggot. Hasil analisis ini tentunya menjadi dasar pertimbangan sebelum memulai usaha

analisa-usaha-budidaya-maggot

Jenis Usaha Produksi

Jenis usaha produksi telur dan magot secara mandiri untuk selanjutnya dijual sebagai pakan ikan dan ternak, tanpa upaya proses produksi pelet atau penepungan magot. Suatu teknologi dikatakan berhasil diadopsi oleh masyarakat jika memenuhi tiga komponen sebagai berikut

  • Aspek biologi dan bioreproduksi hewan telah dikuasai dengan baik
  • Secara teknis teknologi dapat diaplikasikan
  • Secara ekonomi dapat memberi keuntungan

Analisa Usaha

Analisis usaha adalah suatu bentuk perhitungan keuangan untuk mengetahui nilai modal atau investasi yang diperlukan dalam menjalankan suatu usaha, serta untuk mengetahui kelayakan usaha tersebut. Beberapa perhitungan yang diperlukan dalam analisis usaha adalah

  • Pendapatan kotor
  • Keuntungan opersional
  • Keuntungan bersih
  • Rasio penerimaan dan
  • Biaya (r/c ratio)
  • Titik impas (break-even point/bep) dan
  • Masa pengembalian modal (payback period)
  • Apabila R/C ratio lebih besar dari 1, usaha tersebut sudah layak untuk dijalankan, dan sebaliknya.

Adapun kelayakan jenis usaha tersebut dapat dinilai dari lima kriteria investasi sebagai berikut.

  • Net present value (NPV)
  • Net benefit cost rasio (Net B/C)
  • Internal rate of return (IRR)
  • Payback period (PBP)
  • Break even point (BEP)

Investasi yang dibutuhkan dalam produksi magot meliputi bangunan untuk insektarium, larvarium, mesin pencacah sampah organik, mesin press, dan troli. Adapun variabel dalam biaya tidak tetap adalah

  • Biaya transportasi pengiriman sampah organik,
  • Biaya listrik,
  • Harga bungkil kelapa sawit, dan
  • Upah tenaga kerja.

A. Asumsi Analisa Usaha Skala Awal

  • Pada analisa ternak maggot ini, diasumsikan insektarium dibangun di atas tanah seluas 2 m2 dan larvarium seluas 3 m2
  • Jumlah sampah organik yang digunakan yakni 200kg/hari
  • Magot yang dihasilkan 10% dari bahan baku. Artinya, produksi magot sebanyak 20 kg/hari
  • Magot yang diperoleh digunakan untuk produksi pupa atau serangga sebanyak 15%, sementara 85% lainnya dijual ke industri ikan budidaya
  • Nilai jual magot adalah Rp7.000/kg
  •  Nilai jual pupuk organik hasil proses biokonversi adalah Rp1.000/kg.

Biaya Operasional

Analisa Ternak Maggot – Rincian Biaya Investasi dan Operasional Produksi Magot

analisis budidaya-maggot-BSF

Total Biaya Produksi

Total biaya produksi yang dikeluarkan dalam usaha produksi magot dalam satu tahun

Total Biaya Produksi = Biaya Tetap  + Biaya Tidak Tetap

Rp120.000 + Rp1.850.000 = Rp1.920.000

Total Pendapatan Per Tahun

Total pendapatan per tahun =Total produksi magot (kg) X nilai jual magot (Rp)

=  (20kg/hari X Rp7.000) X 85% X (365 hari – 52 minggu) = Rp43.435.000

Rugi Laba

Nilai keuntungan yang diperoleh dalam usaha produksi magot dapat dihitung dengan rumus berikut ini.

Keuntungan (Rp) = Total Pendapatan (Rp) – Total Biaya Produksi (Rp)

Rp43.435.000 – Rp1.920.000 = Rp41.515.000

Kelayakan Usaha Skala Menengah

Berdasarkan data analisis usaha di atas, kelayakan usaha produksi magot dapat ditentukan sbb:

1. BEP (Break Even Point)

Break Even Point (BEP) Dalam Unit

rumus-bep

 

Keterangan :

  • BEP : Break Even Point
  • FC : Fixed Cost
  • VC : Variabel Cost
  • P : Price per unit
  • S : Sales Volume

Break Even Point (BEP) Dalam Rupiah

rumus-bep-rp

 

 

Biaya Tetap dan Biaya Tidak Tetap Per kg

  • Biaya Tetap = Biaya Tetap/Kapstas Produksi =             120.000/6.205 =19 Kg
  • Biaya Tidak Tetap = Biaya Tidak Tetap / Kapastas Produksi =1.850.000/6.205 = 298 Kg

BEP Dalam Kg

  • Biaya Tetap / (Harga Jual Per Kg – Biaya Tidak Tetap Per Kg) = 120.000 / (Rp7.000 – 298Kg) = 18 Kg

BEP Dalam Rupiah

  • Biaya Tetap/1-( Biaya Tidak Tetap/ Penjualan) = 120.000/1-(1.850.000/43.435.000) = Rp125.338

Keterangan:

  • Titik impas dalam kg adalah 18kg. Artinya di angka tersebut tidak untung dan tidak rugi.
  • Titik impas dalam rupiah adalah Rp125.338

2. Return of Investment (ROI)

ROI =    (Keuntungan/Total Biaya Produksi) x100% = Rp43.435.000/1.920.000 = 2.262,24%.

3. Revenue Cost Ratio (R/C)

Kelayakan usaha produksi magot skala menegah dapat dinilai dengan formulasi sebagai berikut ini,

R/C = Pendapatan (Rp)/Total Biaya Produksi (Rp) =  Rp43.435.000/Rp1.920.000 = 22,62

Nilai R/C yang diperoleh adalah 22,62 atau lebih dari 1. Angka ini mengindikasikan bahwa usaha produksi magot skala menengah sangat layak untuk dijalankan.

4. Payback Period (PBP)

Perhitungan payback period diharapkan dapat menganalisis waktu pengembalian investasi usaha produksi magot sakla menengah dengan formulasi sebagai berikut:

PBP (bulan) = Total investasi (Rp)/Laba Usaha (Rp) x 1 tahun = (1.100.000/41.515.000) x 12 bulan = 0,3 bulan.

Hasil analisis ini menggambarkan bahwa seluruh modal investasi usaha produksi magot skala menengah akan kembali dalam kurun waktu 0,3 bulan.

analisa-usaha-budidaya-maggot

B. Asumsi Analisa Usaha Skala Kecil

  • Pada analisa ternak maggot ini, diasumsikan insektarium dibangun di atas tanah seluas 100 m2 dan larvarium seluas 100 m2
  • Jumlah sampah organik yang digunakan yakni 500kg/hari
  • Magot yang dihasilkan 10% dari bahan baku. Artinya, produksi magot sebanyak 50 kg/hari
  • Magot yang diperoleh digunakan untuk produksi pupa atau serangga sebanyak 15%, sementara 85% lainnya dijual ke industri ikan budidaya
  • Nilai jual magot adalah Rp7.000/kg
  •  Nilai jual pupuk organik hasil proses biokonversi adalah Rp1.000/kg.

Biaya Operasional

Analisa Ternak Maggot – Rincian Biaya Investasi dan Operasional Produksi Magot

analisis budidaya-maggot-BSF

Total Biaya Produksi

Total biaya produksi yang dikeluarkan dalam usaha produksi magot dalam satu tahun

Total Biaya Produksi = Biaya Tetap  + Biaya Tidak Tetap

Rp32.050.000 + Rp9.900.000 = Rp40.450.000

Total Pendapatan Per Tahun

Total pendapatan per tahun = Total produksi magot (kg) X nilai jual magot (Rp)

=  (50kg/hari X Rp7.000) X 85% X (365 hari – 52 minggu) = Rp108.587.500

Rugi Laba

Nilai keuntungan yang diperoleh dalam usaha produksi magot dapat dihitung dengan rumus berikut ini.

Keuntungan (Rp) = Total Pendapatan (Rp) – Total Biaya Produksi (Rp)

Rp108.587.500 – Rp40.450.000 = Rp68.137.500

Kelayakan Usaha Skala Menengah

Berdasarkan data analisis usaha di atas, kelayakan usaha produksi magot dapat ditentukan sbb:

1. BEP (Break Even Point)

Break Even Point (BEP) Dalam Unit

rumus-bep

 

Keterangan :

  • BEP : Break Even Point
  • FC : Fixed Cost
  • VC : Variabel Cost
  • P : Price per unit
  • S : Sales Volume

Break Even Point (BEP) Dalam Rupiah

rumus-bep-rp

 

 

Biaya Tetap dan Biaya Tidak Tetap Per kg

  • Biaya Tetap = Biaya Tetap/Kapstas Produksi =                  32.050.000/15.513 = 2.066 Kg
  • Biaya Tidak Tetap = Biaya Tidak Tetap / Kapastas Produksi = 9.900.000/15.513 = 638 Kg

BEP Dalam Kg

  • Biaya Tetap / (Harga Jual Per Kg – Biaya Tidak Tetap Per Kg) = 32.050.000 / (Rp7.000 – 638 Kg) = 5.038 Kg

BEP Dalam Rupiah

  • Biaya Tetap/1-( Biaya Tidak Tetap/ Penjualan) = 32.050.000/1-(9.900.000/108.587.500) = Rp35.265.149

Keterangan:

  • Titik impas dalam kg adalah 5.038 kg. Artinya di angka tersebut tidak untung dan tidak rugi.
  • Titik impas dalam rupiah adalah Rp35.265.149

2. Return of Investment (ROI)

ROI =    (Keuntungan/Total Biaya Produksi) x100% = Rp108.587.500/40.450.000 = 268,45%.

3. Revenue Cost Ratio (R/C)

Kelayakan usaha produksi magot skala menegah dapat dinilai dengan formulasi sebagai berikut ini,

R/C = Pendapatan (Rp)/Total Biaya Produksi (Rp) =  Rp108.587.500/Rp40.450.000 = 2,68

Nilai R/C yang diperoleh adalah 2,68 atau lebih dari 1. Angka ini mengindikasikan bahwa usaha produksi magot skala menengah sangat layak untuk dijalankan.

4. Payback Period (PBP)

Perhitungan payback period diharapkan dapat menganalisis waktu pengembalian investasi usaha produksi magot sakla menengah dengan formulasi sebagai berikut:

PBP (bulan) = Total investasi (Rp)/Laba Usaha (Rp) x 1 tahun = (17.750.000/68.137.500) x 12 bulan = 3.1 bulan.

Hasil analisis ini menggambarkan bahwa seluruh modal investasi usaha produksi magot skala menengah akan kembali dalam kurun waktu 3.1 bulan.

analisa-usaha-budidaya-maggot

B. Asumsi Analisa Usaha Skala Menengah

  • Pada analisa ternak maggot ini, diasumsikan insektarium dibangun di atas tanah seluas 400 m2 dan larvarium seluas 400 M2
  • Jumlah sampah organik yang digunakan yakni 3 ton/hari
  • Magot yang dihasilkan 10% dari bahan baku. Artinya, produksi magot sebanyak 300 kg/hari
  • Magot yang diperoleh digunakan untuk produksi pupa atau serangga sebanyak 15%, sementara 85% lainnya dijual ke industri ikan budidaya
  • Nilai jual magot adalah Rp7.000/kg
  •  Nilai jual pupuk organik hasil proses biokonversi adalah Rp1.000/kg.

Biaya Operasional

Analisa Ternak Maggot – Rincian Biaya Investasi dan Operasional Produksi Magot

analisis budidaya-maggot-BSF

Total Biaya Produksi

Total biaya produksi yang dikeluarkan dalam usaha produksi magot dalam satu tahun

Total Biaya Produksi = Biaya Tetap + Biaya Tidak Tetap

Rp120.300.000 + Rp26.700.000 = Rp139.500.000

Total Pendapatan Per Tahun

Total pendapatan per tahun =Total produksi magot (kg) X nilai jual magot (Rp)

=  (300kg/hari X Rp7.000) X 85% X (365 hari – 52 minggu) = Rp651.525.000

Rugi Laba

Nilai keuntungan yang diperoleh dalam usaha produksi magot dapat dihitung dengan rumus berikut ini.

Keuntungan (Rp) = Total Pendapatan (Rp) – Total Biaya Produksi (Rp)

Rp651.525.000 – Rp139.500.000 = Rp512.025.000

Kelayakan Usaha Skala Menengah

Berdasarkan data analisis usaha di atas, kelayakan usaha produksi magot dapat ditentukan sbb:

1. BEP (Break Even Point)

Break Even Point (BEP) Dalam Unit

rumus-bep

 

Keterangan :

  • BEP : Break Even Point
  • FC : Fixed Cost
  • VC : Variabel Cost
  • P : Price per unit
  • S : Sales Volume

Break Even Point (BEP) Dalam Rupiah

rumus-bep-rp

 

 

Biaya Tetap dan Biaya Tidak Tetap Per kg

  • Biaya Tetap = Biaya Tetap/Kapstas Produksi = 120.300.000/93.075 =1.293Kg
  • Biaya Tidak Tetap = Biaya Tidak Tetap / Kapastas Produksi = 26.700.000/93.075  = 287 Kg

BEP Dalam Kg

  • Biaya Tetap / (Harga Jual Per Kg – Biaya Tidak Tetap Per Kg) = 120.300.000 / (Rp7.000 – 287Kg) = 17.920 Kg

BEP Dalam Rupiah

  • Biaya Tetap/1-( Biaya Tidak Tetap/ Penjualan) = 120.300.000/1-(26.700.000/651.525.000) = Rp125.440.655

Keterangan:

  • Titik impas dalam kg adalah 17.290kg. Artinya di angka tersebut tidak untung dan tidak rugi.
  • Titik impas dalam rupiah adalah Rp125.440.655

2. Return of Investment (ROI)

ROI =    (Keuntungan/Total Biaya Produksi) x100% = Rp651.525.000.000/Rp139.500.000 = 467,04%

3. Revenue Cost Ratio (R/C)

Kelayakan usaha produksi magot skala menegah dapat dinilai dengan formulasi sebagai berikut ini,

R/C = Pendapatan (Rp)/Total Biaya Produksi (Rp) =  Rp651.525.000/Rp139.500.000 = 4,67

Nilai R/C yang diperoleh adalah 4,67 atau lebih dari 1. Angka ini mengindikasikan bahwa usaha produksi magot skala menengah sangat layak untuk dijalankan.

4. Payback Period (PBP)

Perhitungan payback period diharapkan dapat menganalisis waktu pengembalian investasi usaha produksi magot sakla menengah dengan formulasi sebagai berikut:

PBP (bulan) = Total investasi (Rp)/Laba Usaha (Rp) x 1 tahun = (246.500.000/512.025.000) x 12 bulan = 5,8 bulan.

Hasil analisis ini menggambarkan bahwa seluruh modal investasi usaha produksi magot skala menengah akan kembali dalam kurun waktu 5,8 bulan.

 

Pin It on Pinterest

Share This